Penanya :
Assalamualaikum Wr. Wb.
Aku adalah seorang gadis yang sudah berumur dua puluh enam tahun. Selama ini aku belum menemukan seorang teman. Dan aku mulai menjalin persahabatan lewat internet. Ini adalah pertama kali aku berteman dengan cowok. Akan tetapi, aku sangat membutuhkan persahabatan ini. Dengan persahabatan ini aku merasa bahwa mereka seperti saudara-saudaraku sendiri. Terkadang aku menceritakan masalahku kepadanya. Mereka juga memperlakukanku dengan bentuk sama. Namun, aku merasa bahwa pembicaraan dengan cowok adalah sebuah kesalahan dan aib. Tapi, pada waktu lain aku merasa bahwa hal itu biasa-biasa saja. Aku tidak tahu, apakah ini salah ataukan benar… haram ataukah halal??
Najla Mahfudz :
Diantara bentuk hubungan yang paling membahayakan adalah persahabatan lewat internet. Dan permasalahan ini yang sering kita dengar saat-saat ini, yaitu disebabkan hubungan antara cowok dan cewek lewat internet. Kebanyakan pihak gadis merasa sangat enjoy dan menceritakan semua kisah hidupnya kepada seorang laki-laki itu kecuali identitas diri yang disampaikan kepada si gadis. Jelas, pihak laki-laki mempunyai kesempatan yang selebar-lebarnya untuk memperkenalkan dirinya sebaik mungkin untuk menarik perhatian si gadis dan memikat hatinya. Dan bagi si cowok, segala hal mungkin diberikan kepada si gadis. Yaitu, memahaminya, mendengarkan keluhan-keluhannya dengan baik, menghargai perasaannya, dan menjauhi segala sesuatu yang menyakiti hatinya. Hal ini membuat si gadis bertekuk lutu di hadapannya. Bahkan, si gadis akan menempatkan cowok ini number one dalam hidupnya. Dan sedikit demi sedikit, si gadis
memberikan kepercayaan kepadanya. Akhirnya, si gadis kaget bukan kepalang, karena dirinya disia-siakan oleh orang yang dianggap sebagai HERO-nya, sikapnya sudah tidak seperti yang dulu, bahkan tak jarang dia harus menelan pil pahit karena ucapannya, sebagaimana yang banyak dialamu oleh para gadis, dan mereka menceritakannya kepada saya.
Sungguh, saya selalu berpesan kepada para gadis agar hubungan mereka dengan para cowok dalam batas-batas berteman, tidak lebih. Dan jangan sekali-kali membuka titik kelemahannya atau permasalahan hidupnya kepada cowok siapapun, sehingga mereka tidak mempermainkannya.
Bentuk persahabatan seperti ini adalah sesuatu yang langka. Kecuali jika dari persahabatan tersebut pihak gadis mendapatkan kepuasan emosional.
Memang, si cowok akan berusaha untuk membahagiakan si cewek. Bahkan, jika si cewek sudah ditunang orang lain maka dia akan bersikap sangat bijak dan sebaik mungkin. Karena si cewek akan membandingkan dirinya dengan orang yang sudah meminangnya. Tentu, nasib baik tidak berpihak kepada orang yang sudah meminangnya, karena dia tidak memiliki kepiawaian meracik kata dan kepandaian berinteraksi dengan para cewek, sebagaimana cowok profesional yang sering bercengkerama dengan para gadis dan mencuri impiannya via internet. Padahal, ketika mereka ingin menikah maka mereka akan memilih gadis yang dijamin tidak pernah ngobrol dengan orang-orang asing.
Lebih-lebih, penyandaran diri terhadap persahabatan maya ini akan melemahkan kemampuanmu untuk menghadapi kenyataan hidup yang sebenarnya. Juga akan mengurangi interaksi positif bersama orang-orang yang ada di sekitarmu. Dengan kata lain, ia akan membawamu pada perkara negatif yang berantai. Dan sudah diketahui bersama bahwa berbicara yang berlebih-lebihan dengan laki-laki yang bukan mahramnya adalah haram secara agama. Di samping itu, masyarakat tidak merestui bentuk persahabatan ini. Mereka telah menganggap bahwa bentuk persahabatan ini merendahkan martabat seorang wanita, karena berada pada daerah yang remang-remang.
Oleh karena itu, saya berharap agar kamu membandingkan antara manfaat positif dan negatifnya. Dan saya yakin, kamu akan mengambil pilihan yang terbaik. Maka, saya mengucapkan selamat kepadamu.
Taked from : LA TAHZAN for Unmarried by Najla Mahfuzh